Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 29

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 29by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 29My HEROINE [by Arczre] – Part 29 BAB VIII: MENYUSUP #PoV Ryu# “Menyusup?” gumam Rina-chan. “Iya menyusup,” kataku. Hana-chan cekikikan bersama papanya. Iya, wajahku bonyok gara-gara dihajar oleh Rina-chan. Ini semua salah faham. Akhirnya dengan sangat jahat Rina-chan tidak minta maaf atas apa yang dilakukannya tadi. Katanya sebagai balasan karena tidak memberiku kabar selama ini. […]

tumblr_nw5arovUtb1roykwro1_540 tumblr_nw5yrdvxbj1usrih4o1_500 tumblr_nw5yrdvxbj1usrih4o2_500My HEROINE [by Arczre] – Part 29

BAB VIII: MENYUSUP

#PoV Ryu#

“Menyusup?” gumam Rina-chan.

“Iya menyusup,” kataku.

Hana-chan cekikikan bersama papanya. Iya, wajahku bonyok gara-gara dihajar oleh Rina-chan. Ini semua salah faham. Akhirnya dengan sangat jahat Rina-chan tidak minta maaf atas apa yang dilakukannya tadi. Katanya sebagai balasan karena tidak memberiku kabar selama ini. Salah siapa coba? Akukan sengaja nggak menghubungi dia lagian apa urusanku??

“Aku ikut!” kata Rina-chan.

“Rina-chan, ini bukan urusanmu tidak usah!” kataku.

“Aku ikut, kemana pun Ryu-kun pergi aku akan ikut,” kata Rina-chan.

“Sainganmu Na?” tanya papanya Hana-chan.

“Bukan pa, bukan. Aku kan nggak ada hubungan apa-apa ama Ryu-kun,” kata Hana-chan. Dia menjulurkan lidahnya lagi ke arahku.

Aku sebel, tapi juga nggak tega mau nyakitin dia. Awas ya nanti.

“Ya sudah, sirakan ikut. Tapi apa kamu tak ada urusan rain?” tanyaku.

“Urusanku sudah selesai, kemarin malam ada yang menyerang gedung konsulat. Aku sampai dibekuk. Hebat sekali dia. Tapi anehnya tak ada satupun yang dibunuh. Mereka benar-benar pembunuh profesional,” jelas Rina-chan.

“Assasin?” gumamku.

“Gedung konsulat diserang?” tanya papanya Hana-chan.

“Iya, tapi aku tak apa-apa. Mereka semua dibius. Hanya saja satu dokumen penting dicuri. Padahal itu isinya adalah perjanjian bilateral antara Jepang dan Indonesia,” jelasnya. “Karena aku sudah tak tugas lagi aku pun mencari Ryu-kun. Ketemu deh di sini.”

“Oh, begitu ceritanya?” papanya Hana-chan manggut-manggut. “Tahu siapa yang menyuruh?”

“Entahlah, kami juga tak tahu. Lagipula ini pasti ada hubungannya dengan politik,” kata Rina-chan menyimpulkan.

“Jadi berangkat nggak? Bagaimana prof?” tanyaku.

“Aku sudah mengupgrade, ternyata benar teknologinya terlalu mudah untuk dikuasai. Masih lebih canggih Black Knight,” kata profesor sambil tertawa. Aku agak tidak suka dengan cara ketawanya.

“Trus?” tanyaku.

“Aku menambahkan display di helmu, jadi nanti kamu bisa melihat sesuatu di sana. Selama ini kan tidak ada layar display-nya. Dan, aku menambahkan mode Stealth,” jelas Profesor Andy.

“Oh ya, apakah Mode Banzai-ku diupgrade juga?” tanyaku.

“Mode Banzaimu mirip seperti ROCKS MODE, jadi buat apa diupgrade? Itu saja sudah hebat koq,” jelas profesor.

“Begitukah? Kukira itu juga diupgrade.”

“Jadi kita berangkat?” tanya Rina.

“Jadi, ikuze!”

“Pergi dulu ya pa,” Hana-chan mencium pipi papanya.

“Hati-hati, awas ketangkap kamera. Usahakan jangan sampai tersorot kamera. Papa akan membantu dari sini,” kata paman Faiz.

“Ikut?” tanyaku.

“Akukan operatormu sekarang, lagian cuma aku yang tahu LAPAN ada di mana,” jawab Hana-chan.

Oh iya, bener juga.

******~o~******

Keluar dari M-Tech, aku naik mobil bersama Rina-chan. Dan Hana-chan yang menyetir. Kami menuju ke daerah Cijantung di mana gedung LAPAN ada di sana. Masa’ micro-metal disimpan di sini? Setelah beberapa tahun LAPAN berdiri ternyata di dalamnya dibangun sebuah tempat riset yang terletak di bawah tanah. Di tempat riset inilah ada yang disebut dengan micro-metal. Aku melihat-lihat dokumen yang menjelaskan tentang Micro-metal dan nanobot. Keren juga ya buatannya Profesor Andy.

NANOBOT

Micro-Metal
Bentuk nanobotnya keren. Kecil bagaimana benda sekecil itu bisa dibuat oleh profesor ya? Bahkan katanya lebih kecil daripada serangga semut yang paling kecil. Whew.

Kami memarkir mobil agak jauh dari gedung itu. Seharusnya gedung itu tak dijaga kan? Kami cuma masuk kemudian mengambil micro-metal selesai. Aku sebenarnya tak habis pikir dengan semua ini, harusnya aku hanya mengambil Gnome-X, setelah itu pulang. Ini malah harus membantu Hana dan keluarganya. Tapi nggak apa-apa deh.

“Nggak sulit kan harusnya?” tanyaku.

“Iya, harusnya nggak sulit, cuman mengambil micro-metal setelah itu pergi,” jawab Hana-chan. “Rina-chan, tolong ya.”

“Serahkan kepadaku,” kata Rina-chan.

Kami berdua keluar dari mobil. Moga saja benar kalau misi ini bakal mudah. Aku membawa pedang kayuku. Sambil berjaga-jaga pula aku bawa pedang masamune. Kira-kira apa ya upgradenya. Aku menekan pedangku dan menariknya.

“Hen…….shin!” kataku.

PLETAK! kepalaku digetok Rina-chan

“Ngapain pake henshin segala, biasanya berubahnya juga biasa nggak pakai henshin!” kata Rina-chan.

“Yah, pakai style sedikit kan boleh,” kataku.

“Zero CHANGE!”

Pedang kayuku mengeluarkan cahaya, kemudian cahaya-cahayanya berpendar menjadikan ratusan bentuk cahaya segi enam menyelimuti diriku. Dan armor-armor pun mulai menutupi tubuhku, jadilah aku Super Human Soldier Zero.

“Yuk!” ajak Rina-chan.

“Whoaaa! Whoaaa! Whoaaaa! Sugoooooooiiii!” aku kegirangan melihat display yang ada di dalam helmku.

“Woi Ryu-kun, ada apa?” tanya Rina-chan.

“Hana-chan, ini tambahan upgrade dari profesor yah? Disupurai-nya keren. Aku punya disupurai manager di helmku!”

“Iya iya, cepetan sana!” kata Hana-chan.

“Sebentar. Wah, aku bisa gerakin pake gerakan pupiru mata, aku bisa gerakin seperti rayar touchu sukuriin (touch screen) pake mata dan kedipan. Keren, ada banyak menu. Whoaaa…ada MP3, eh, ada browser juga. Sugooooooooiiii!”

“Sudahlah, jangan ndeso banget kamu. Segera ambil itu micro-metal!” gerutu Hana-chan.

“Ndeso itu apa?” tanyaku.

“AAARrrgghhh! Ryu-kuuuuun!” teriak Hana-chan.

“Hai hai!”

Rina-chan mengangkat bahunya.

Aku kemudian dengan kecepatan superku melesat menuju ke dalam LAPAN. Yup, mudah sekali, tanpa halangan. Penjaga pun bisa aku kelabui dengan kecepatan superku. Dan dengan cepat aku sudah sampai di lantai bawah. Rina-chan menungguku di luar sambil bertengger di atas. Ia melihat keadaan sekeliling tentunya. Tapi aku masih takjub dengan display manager yang diberikan profesor kepadaku. Keren sekali.

Aku sudah berada di lantai bawah. Sepi sekali seperti tak ada penjaganya. Aku dengan mudah sampai di depan sebuah ruangan besar yang disekelilingnya ada kaca tebal. Ruangan ini kah?

“Ruangan inikah?” tanyaku.

“Iya ruangan itu, ada tombol di pintu masuknya! Di sana kamu harus masukin password. Isi saja seperti yang ada di layar display managermu!” kata Hana-chan di alat komunikasi.

Di layar display muncul angka 55412. Hmm, aku pun mendekati ruangan itu dan melihat keyboard. Aku tekan angka yang dimaksudkan. Pintu pun terbuka. Dengan leluasa aku masuk. Ada kamera CCTV di dalam sana.

“Tak usah dipedulikan kamera CCTV-nya. Sudah aku hack,” kata Hana-chan.

“Aku penasaran Hana-chan, kamu belajar hal seperti ini sejak kapan?” tanyaku.

“Sejak aku masih kecil,” jawabnya.

“Hmm….kamu cantik dan juga pintar,” kataku.

“Jangan menggoda aku, dasar cowok hentai!”

“Hana-chan, apa salahku?”

“Pokoknya kamu salah! Rina-chan, tolong nanti digebukin lagi ini si manusia hentai!”

“Wakatta!” kata Rina-chan di saluran komunikasi

“Tak mungkin, Rina-chaan…Hana-chan, kalian tega!”

“Ryu-kun cepat ambil!” bentak Hana-chan.

“Iya, iya!” kataku.

Hana-chan, susah sekali mendekati dia. Aku sudah ungkapkan perasaanku kepadanya tapi dia terus menghindar dan menolakku. Aku sekarang ini benar-benar suka dengannya. Rina-chan juga kaget tadi ketika mengetahui Hana-chan mirip dengan Sakura. Tapi sepertinya dia menyimpan sesuatu yang tak ingin aku mengetahuinya.

Aku kemudian menuju ke sebuah sudut ruangan yang ditutup oleh kaca lagi. Tapi di sana ada beberapa drum. Kurang lebih sembilan drum. Menemukan micro-metal, sangat mudah. Aku sudah menemukannya. Drum-drum itu bertuliskan Micro-metal. Yah, kukira sulit.

Aku kemudian melongok ke drum itu ada jutaan micro-metal di sini. Bentuknya benar-benar kecil, butiran-butirannya. Kemungkinan besarnya seperti seekor semut hitam yang paling besar. Aku coba pegang, benar-benar lunak. Bagaimana profesor Andy membuat nanobot dari benda seperti ini? Aku tak habis pikir. Ada ya ternyata orang yang sangat cerdas seperti profesor Andy.

“Aku menemukannya, butuh berapa?” tanyaku.

“Satu drum deh, kalau bisa bawa keluar,” jawab Hana-chan.

“Sisanya?” tanyaku.

“Biarin aja, toh kita cuma butuh satu aja,” jawab Hana-chan.

Aku pun menutup drum itu dengan tutup yang sudah tersedia. Dengan satu tangan aku mengangkatnya. Nggak berat, iyalah dengan armor Zero ini aku bisa mengangkat benda-benda berat. Nggak susah lagipula untuk mengangkatnya. Aku dengan langkah santai mengangkat drum ini. Ketika sampai di sebuah lorong aku melihat petugas keamanan. Segera aku lari dengan kecepatan superku agar tak terlihat. Sang petugas sekuriti pun kebingungan. Dia seperti melihat sesuatu, tapi tak ada apa-apa.

Oh iya, aku ada mode stealth ya? Aku coba deh. Dengan menggerakkan pupil aku bisa memilih menu. Ok, mode stealth. Tiba-tiba ada sesuatu yang aneh. Whoaaa….tubuhku nggak kelihatan. Benar-benar sempurna. Hebat sekali profesor Andy. Wuhuuuu! Aku jingkrak-jingkrak sendiri, dengan enteng berjalan melewati petugas sekuriti.

Petugas sekuriti melihatku. Ia bengong. Lho? Dia bisa lihat aku?

“SS….Sss..ssse…setaaaaaaann!” petugas sekuriti yang ada di lobi segera lari tunggang-langgang.

“Lho, emangnya ada yang aneh?” gumamku.

“Ryu-kun, kamu itu bodoh atau apa sih? Ya jelas mereka bisa lihat. Yang menghilang itu cuma kamu, tapi drumnya nggak!” kata Hana-chan.

“Waahahaha,” kudengar Rina-chan ketawa.

Oh iya. Aduh, aku juga segera lari saja deh. Daripada kenapa-napa. Ketika aku keluar dari gedung LAPAN sambil berlari cepat. Rina-chan langsung menyusulku. Aku menaruh drum berisi micro-metal di bagasi mobil. Rina-chan masih tertawa terbahak-bahak.

“Ryu-kun konyol, hahahahahaha!” katanya sambil tertawa. Hana-chan juga ikut tertawa. Iya deh, iya deh aku bego. Aku menggaruk-garuk kepalaku sendiri.

Aku kemudian melepaskan armor Zeroku. Kembali jadi manusia normal. Setelah itu aku masuk ke mobil. Rina-chan juga.

“Udah dong jangan tertawa terus,” kataku.

“Habisnya kamu konyol sekali,” kata Hana-chan.

Bip bip! Terdengar suara alarm.

“Oh, dari Profesor!” kata Hana-chan. “Iya prof, ada apa?”

“Sudah dapat?” tanya profesor. Hana-chan sedang menghadap ke layar laptopnya mereka melakukan video call. Tampak wajah profesor ada di sana.

“Sudah prof. Beres,” kata Hana-chan.

“Hana, kamu tidak memeriksa pelacakan GPS Yuda ya?”

“Oh, hari ini belum. Kenapa prof?”

“Ternyata di log, Yuda pernah muncul sekali,” jelasnya.

“Hah? Yang bener prof?”

“Iya, hari ini. Tadi siang tepatnya.”

“Di mana?” tanyaku.

“Di Hotel The Continental.”

“Ayo kita ke sana!” kata Hana-chan.

******~o~******

Tak berapa lama kemudian kami sampai di depan reruntuhan Hotel The Continental. Whoaa….bisa hancur lebur begini? Kami melihat tempat itu sudah dikepung dengan police line. Hana tak berani mendekat karena sadar bahwa dia juga adalah buronan pihak yang berwajib.

“Beneran nih tempat ini?” tanya Hana. “Sampai hancur gitu gedungnya.”

“Ulah Jinomu Ekusu!” kataku.

“Pastinya sih,” kata Hana.

“Gnome-X itu seperti Zero ya?” tanya Rina-chan.

“Iya,” jawab Hana-chan.

“Ngomong-ngomong atas alasan apa dia sampai menghancurkan hotel itu?” tanya Rina-chan.

“Pertanyaan yang bagus. Kita akan selidiki nanti. Sementara itu kita beri saja Micro-metal ini ke profesor,” kata Hana-chan.

Aku menoleh ke arah lampu lalu lintas. Eh, ada kamera CCTV.

“Hana-chan, mitte! Kamera CCTV!” aku menunjuk ke lampu lalu lintas.

“Ah, iya, bener. Kamu jenius Ryu-kun!” Hana segera mengutak-atik laptopnya. Entah dia ngapain. “Aku akan coba melihat rekamannya, siapa tahu masih ada. Kan kejadiannya tadi siang.”

Tak berapa lama kemudian Hana-chan pun sudah bisa masuk ke dalam database komputer server. Entah bagaimana ia bisa melakukannya. Aku tak begitu mengerti. Dan dia sudah milih-milih video.

“Ah ketemu ini dia!”

Di laptopnya pun kami melihat sesuatu. Seseorang terbang dengan armor berwarna keperakan. Di punggungnya tampak ada sayap berwarna putih yang terbentuk dari dorongan energi yang ada di punggungnya. Itu Gnome-X, pasti Yuda ada di dalamnya. Gnome-X turun dengan membawa seorang wanita. Eh?? Wanita? Sepertinya aku tahu siapa wanita itu. Di mana ya pernah ketemu.

“Hah, inikan…Brooke! Iya ini Brooke!” seru Hana-chan. “Teman sekelasnya Yuda. Ngapain dia ada di sini. Bersama Yuda??”

Setelah itu adegan berganti. Gnome-X melayang lagi dan menerjang bangunan hotel berkali-kali. Kemudian terbang ke sana-kemari hingga kemudian bangunan hotelnya rusak parah. Setelah itu yang terakhir, dia mengeluarkan salah satu pedangnya. Dengan kekuatannya ia menghantamkan pedang itu ke bangunan hotel hingga hancur lebur.

“Whoaaa! Tahu penyebab kenapa Yuda bisa semarah itu?” tanyaku.

“Ada hubungannya ama Brooke mungkin. Mungkin Brooke diculik atau disekap, sehingga dia menghancurkan hotel itu. Mungkin hotel itu klompotan penjahat. Yang jelas Yuda nggak mungkin berbuat jahat. Ia anaknya terlalu cute untuk berbuat jahat,” kata Hana-chan.

Yuda kemudian melepaskan armor Gnome-X-nya sehingga dia menjadi manusia biasa. Kami kemudian melihat adegan di mana Brooke memeluk Yuda. Waah, pake acara pelukan segala. Bisa-bisa Han Jeong cemburu nanti. Setelah itu mereka berjalan menuju ke hotel.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku.

“Jadi selama ini Yuda bersama Brooke. Syukurlah dia tak apa-apa. Tapi kenapa dia tidak menemui kita ya?” gumam Hana-chan.

“Amnesia mungkin,” kata Rina-chan menyeletuk.

“Bisa jadi sih, tapi apa iya?” Hana-chan meneraawang.

“Aku tak tahu siapa Yuda, tapi armornya itu keren. Lebih keren dari armormu Ryu-kun!” Rina-chan memukul bahuku.

“Hana-chan, kita hubungi Han Jeong!” kataku.

“Tunggu dulu, Han Jeong tak bisa dihubungi sekarang. Ia sedang dilatih ama ayahnya Yuda.”

“Raru, ini?”

“Ini kan kabar baik, Yuda nggak kenapa-napa. Besok, kita akan cari Yuda. Kita lacak alamatnya Brooke.”

“Ide bagus.”

Kami pun segera kembali ke gedung M-Tech. Semuanya masih menjadi misteri kenapa Yuda bersama Brooke. Dan kenapa Yuda tidak kembali kepada kita? Sepertinya terjadi sesuatu dengan Yuda. Sepertinya itu tidak baik.

(bersambung…………)

Author: 

Related Posts