Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 2

Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 2by adminon.Cerita Sex Dark Secret II : Revenge – Part 2Dark Secret II : Revenge – Part 2 Chap 1 Somewhere I Belong Part 1 ~ ~ ~ * * * ~ ~ ~ “Kenapa beritanya seperti itu lagi? Kita kan belum mengkonfirmasi kebenarannya? Pernyataan dari artisnya juga belum ada?” tanya seorang wanita dengan nada tinggi. “Itu permintaan dari direktur Cantal, aku tidak mempunyai wewenang […]

tumblr_ntj3bjVdIf1ucxkkxo2_400 tumblr_ntj3bjVdIf1ucxkkxo3_500 tumblr_ntj3bjVdIf1ucxkkxo1_400

Dark Secret II : Revenge – Part 2

Chap 1
Somewhere I Belong
Part 1

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
“Kenapa beritanya seperti itu lagi? Kita kan belum mengkonfirmasi kebenarannya? Pernyataan dari artisnya juga belum ada?” tanya seorang wanita dengan nada tinggi.

“Itu permintaan dari direktur Cantal, aku tidak mempunyai wewenang lagi untuk mengubahnya,” kata seorang lelaki dengan nada pelan. Matanya memandang ke jendela, matahari sudah terbenam beberapa waktu lalu, menyisakan malam yang akhirnya sudah mulai mendekat.

Suasana menjadi sepi setelah perkataan si lelaki, sedangkan wanita yang dipanggil Cantal juga hanya bisa terdiam ketika mendengar jawaban si lelaki.

“Ah sudahlah!” kata wanita yang dipanggil Cantal sambil melangkah keluar dari ruangan itu dan melangkah menuju ke tempat parkir. Dengan geram dia membuka pintu mobil dan masuk kedalam.

“Berita apa seperti itu?!” Katanya dengan marah sambil memukul kemudi. Wajah cantiknya memerah menahan amarah. Sambil menarik nafas dia memutar kunci kontak dan hanya desisan samar yang keluar dari mesin mobilnya. Beberapa kali dia mengulanginya namun tetap saja mobil itu tidak mau menyala.

Bllllaagggggg

Suara pintu mobil yang dibanting terdengar dibelakangnya ketika dengan langkah yang panjang walau menggunakan high heels dan rok pendek hitam dia melangkah menuju kejalan raya.

“Taksi!” teriaknya sambil melambaikan tangan kearah taksi berwarna biru yang terlihat beberapa meter di seberang jalan. Sambil menarik nafas dia menunggu taksi yang menghampirinya. lalu dengan cepat dia masuk kedalam.

“Mau kemana mbak?” tanya supir taksi ramah.

“Muter-muter saja dulu mas,” kata Cantal sambil melirik keluar kearah gelapnya malam dari balik jendela. Jalanan ibukota, tidak pernah sepi dari semut-semut besi yang mengantar penunggangnya mengais rejeki. Dengan wajah jeruh Cantal memandang lampu-lampu di pinggir jalan. Namun pikirannya tidak sepenuhnya disana namun melayang-layang ke beberapa peristiwa yang bertubi-tubi mempengaruhi karir dan kehidupan pribadinya.

Saudara-saudara, kabar kedekatan kembali personil grup Band Nuah dengan artis Lana Maya kembali manjadi perbincangan, stasiun televisi MSCTV bahkan mengabarkan kalau mereka sudah berpacaran…

“Mas, bisa ganti saluran radionya?” minta Cantal jengah dengan pemberitaan yang telah dilakukan oleh tempatnya kembali bekerja.

“Oh, iya mbak,” sahut si sopir taksi sambil mengganti saluran radio. Sebuah lagu mengalun pelan membelah pekatnya malam.

meminta perhatian namun jarang menghiraukan
inginkan kesetiaan namun sering menduakan
semua itu salahku, aku di masa lalu
tak cukup menyesalinya, jangan lagi mengulanginya

mengenal dirimu ku jalani denganmu
saat marah aku lupa semua kelebihanmu
mengingat awal kita memulai sebuah cerita
ada saat terluka hiasi masa bahagia

kau menyadarkan aku kita bukan makhluk sempurna
mendekati pun tidak tanpa kau melengkapi
ku harus berkaca, hanya beginilah aku
beruntungnya aku memiliki dirimu

akan ku bawa cermin ini kalau perlu sampai mati
agar aku tak lagi lupa
selalu mensyukuri hari ini, denganmu aku berbagi
beruntungnya aku ooo ooo

kau menyadarkan aku kita bukan makhluk sempurna
mendekati pun tidak tanpa kau melengkapi
ku harus berkaca, hanya beginilah aku
beruntungnya aku memiliki dirimu
memiliki dirimu ooo beruntungnya aku

“Sayang, aku tidak seberuntung Duta,” kata Cantal lirih.

“Eh, maaf mbak, saya ganti lagi,” kata si sopir taksi mengira kalau penumpangnya tidak suka dengan lagu yang diputarnya.

“Ohh, nggak mas, biarin saja lagu itu,” sanggah Cantal cepat sambil kembali memandang keluar jendela.

Ting…

Suara handphonenya mengalihkan perhatian Cantal dari luar jendela, dengan tangan kanannya dia mengambil handphonde dari dalam tasnya dan membaca pesan yang masuk.

From : Hell
Hotel Nikki, kamar 303, ST, no panties.

Dengan geram Cantal memasukkan handphonenya kedalam tas, sorot kemarahan terlihat dimatanya yang bening. Dengan suara yang pelan dia berkata kepada sopir taksi yang memandang takut-takut kearahnya dari kaca tengah mobil.

“Mas, ke Hotel Nikki ya,” kata Cantal sambil memandang ke kaca tengah mobil, sejenak pandangannya bertemu dengan pandangan sopir taksi yang memandang bagian atas tubuhnya yang membusung walau terbungkus blouse putih ketatnya.

“Eh, iya mbak,” kata si sopir taksi tergagap sambil membelokkan taksinya di perempatan dan sekarang menuju ke arah Hotel Nikki.

Cantal hanya tersenyum melihat kekikukan dari si sopir taksi. Rasa bangga menyeruak dalam dirinya, wanita mana yang tak akan bangga jika dirinya menjadi perhatian pria?

Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan Hotel Nikki, sebuah ide muncul di kepala Cantal. “Mas, berapa?” tanyanya.

“Seratus ribu mbak, ” kata si sopir taksi sambil menoleh kebelakang.

“Ini mas, ” kata Cantal sambil bangkit dan memberikan uang kepada si sopir taksi. Ketika menunduk, belahan dadanya terpangpang jelas di mata sang sopir. Terlihat sang sopir yang beruntung hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan didepannya.

Dengan senyum mengembang Cantal keluar dari dalam taksi, meninggalkan sopir taksi yang memandang kepergian penumpangnya dengan tatapan nanar. Sambil menarik nafas dia menjalankan taksinya ketika pandangannya terbentur pada sebuah tas berwarna putih di bangku belakang.

“Mbak, tunggu, ini tasnya ketinggalan,” kata sang sopir sambil mengangsurkan tas itu kepada Cantal.

“Ouwh, terimakasih mas, ini,” kata Cantal sambil mengambil selembar uang berwarna merah dari dompetnya dan memberikannya kepada si sopir.

“Tidak usah mbak,” tolak si sopir dengan halus.

“Eh, ada nomer yang bisa saya hubungi? Saya sering perlu taksi, siapa tahu nanti perlu mas,” kata Cantal ramah.

“Ouwh, ada mbak, 085792100xxx,” kata si sopir senang mendengar kemungkinanan mendapatkan penumpang nantinya.

“Dengan siapa ya mas?” tanya Cantal sambil mengamati wajah si sopir lebih seksama.

“Nama saya Rangga mbak,” kata si sopir dengan ramah.

“Saya Cantal, oh iya, saya ada urusan didalam sekitar satu jam, nanti kesini satu jam lagi ya mas,” katanya sambil berbalik pergi. Pantatnya terlihat bergoyang pelan ketika dia melangkah menuju ke dalam hotel. Goyangan pantat yang hanya bisa dilihat oleh sopir si sopir taksi.

Raut wajah Cantal berubah ketika memandang hotel yang akan dimasukinya. Dengan terpaksa dia melangkahkan kakinya menuju kamar 303, sesuai intruksi di sms yang diterimanya.

“Shittt!” katanya ketika dia mengingat lagi intruksi yang diterimanya. No panties!. Pandangan matanya mencari toilet didekat lobi. Dengan wajah memerah dia melangkah menuju kedalam toilet yang terletak tak jauh dari lobi. Setelah pintu toilet menutup dibelakang tubuhnya, perlahan tangannya menjangkau kebawah, kearah rok yang menutupi aset yang cukup besar dibawah sana.

Ketika tangan itu keluar, sebuah celana dalam hitam yang dihiasi renda merah berada di genggamannya. Cairan bening kental terlihat menghiasi di bagian tengahnya, menandakan saat subur dari yang mengenakannya. Sekarang tangan itu menjangkau kebelakang punggungnya dan melepaskan kaitan bra yang dikenakannya.

Dengan sedikit risih Cantal melepaskan bra yang dikenakannya sehingga sekarang aset besar yang tadi di lihat sopir taksi itu terlihat seakan tumpah walaupun berhasil disangga oleh blouse putihnya.

Dengan perasaan aneh Cantal keluar dari toilet dan berjalan menuju kearah lift.

Semoga tidak ada yang tau kalau aku tidak mengenakan apa-apa dibalik semua ini, pikir Cantal sambil berjalan lebih cepat menuju kearah lift.

Ting

Pintu lift terbuka dan untungnya didalamnya sedang kosong. Dengan menarik nafas lega, Cantal masuk dan menekan tombol menuju kamar 303.

Ting

Pintu lift terbuka dan Cantal melangkah menuju ke kamar 303. Lorong hotel terlihat sepi walaupun belum terlalu malam. Didepan pintu kamar no 303 Cantal berhenti dan menarik nafas panjang sebelum dia mengetuk pintu. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka dan seorang lelaki kelihatan dari celah pintu yang terbuka.

“KAU!”

Author: 

Related Posts